Masa Depan Mall di Tengah Gempuran e-Commerce

Tren penurunan daya beli masyarakat mulai meresahkan para pelaku usaha di pusat-pusat perbelanjaan utama di sejumlah kota besar. Banyak pusat perbelanjaan di Jakarta maupun kota disekitarnya meredup lantaran mulai ditinggalkan pembeli. Pasar Glodok dan WTC Mangga dua merupakan dua diantaranya. Maraknya keberadaan toko online (e-commerce) diduga sebagai penyebabnya.

Kabar sepinya Glodok dan WTC Mangga Dua bahkan telah sampai ke telinga Menteri Perdagangan (Mendag) Enggartiasto Lukita. Enggar mengaku telah menerima beberapa laporan terkait penurunan daya beli masyarakat dari pelaku usaha maupun pengelola pusat perbelanjaan.

Enggar pun meminta kepada pengelola pusat perbelanjaan untuk melakukan inovasi agar mampu menjadi daya tarik pengunjung. Salah satunya, inovasi pada tata letak toko pada pusat belanja.

“Dulu pernah ada pusat belanja yang ramai terus turun. Siklus akan seperti itu jika tidak ada inovasi. Pusat belanja Indonesia sekarang harus ada perubahan mengenai mix-nya, misal perpaduan antara foodcourt dan sinema, bagaimana mix yang dilakukan,” jelas Enggar.

Selain Glodok dan WTC Mangga Dua, sepinya pembeli juga terlihat pada pusat perbelanjaan serta jual beli alat elektronik Bekasi Cyber Park yang terletak di Bekasi, Jawa Barat. Padahal mal tersebut tak hanya menyediakan area jual beli handphone dan laptop, tetapi juga menyediakan sejumlah sarana seperti sarana fitness, foodcourt, serta bioskop. Pengunjung mal ini pun cukup beragam mulai dari anak muda hingga orang tua.

Menurut pengakuan salah satu penjual di sana, kondisi mal setiap hari memang cukup ramai. Namun, jika dilihat lebih jauh, pengunjung tersebut tidak banyak yang mampir untuk membeli barang dagangan.

“Di sini masih banyak orang datang, tapi kalaupun datang hanya lihat-lihat display, lalu jalan lagi mau ke lantai 4 nonton bioskop,” ujar Frendy salah seorang penjual handphone dijumpai CNNindonesia.com di Bekasi Cyber Park, Senin (17/7).

Frendy yang sudah hampir dua tahun berjualan di mal tersebut merasakan omzet penjualannya terus menurun dalam setahun terakhir. Meski enggan menyebut besaran nilainya, Frendy menyebut volume penjualannya menurun signifikan sejak awal tahun 2016.

Di samping ekonomi yang masih lesu, ia menduga penurunan tersebut lantaran banyak orang yang mulai tertarik membeli handphone dari toko online. Apalagi saat ini, banyak toko onlineyang telah bekerja sama dengan pihak perbankan maupun lembaga pembiyaan lainnya yang menawarkan program cicilan.

Menyadari kondisi tersebut ia mengaku tidak akan selamanya bertahan menyewa lapak di mal. Beban biaya sewa dan operasional tinggi membuatnya harus memutar otak memasarkan barang dagangan lewat media sosial.

“Kan selera orang mau beli dimana, datang ke mal kan juga karena kebutuhan. Karena sekarang lagi zaman jualan di instagram, ya coba-coba saja ikutan suplai ke sana,” ujarnya.

Menurut Ketua Umum DPP Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) Stefanus Ridwan, fenomena yang terjadi di pusat belanja seperti Glodok disebabkan pengelola maupun pedagang tidak bisa merespons perubahan.

Ia menilai para pedagang handphone di kawasan Bekasi Cyber Park masih beruntung, lantaran pihak pemilik mal juga menyediakan tempat hiburan lain yang menjadi daya tarik mal di kawasan Kalimalang tersebut.

Saat ini, menurut dia, para pelaku usaha maupun pengelola pusat perbelanjaan harus jeli dalam melihat pola konsumsi masyarakat. Pasalnya, masyarakat yang berkunjung ke pusat perbelanjaan tidak hanya sekedar berbelanja tetapi juga melalukan kegiatan lainnya.

“Coba kalau tidak ada bioskop atau tempat hiburan lainnya, mungkin saja sudah sepi. Sekarang sudah banyak orang yang mau beli handphone cukup order lewat komputer,” ujar Stefanus saat dihubungi.

Sementara itu, menurut konsultan properti Colliers International Indonesia, gempuran jual beli melalui paltform online tidak akan membuat para pengusaha mal gulung tikar.

Senior Associate Director Retail Service Colliers Steve Sudijanto menjelaskan, pusat perbelanjaan atau mal masih menjadi bisnis menjanjikan di Jakarta meskipun tren ritel onlineatau e-commerce meningkat pesat. Hal ini karena hanya sedikit pilihan hiburan dan rekreasi yang tersedia bagi keluarga di ibu kota.

“Tidak ada banyak pilihan untuk hiburan keluarga. Itulah sebabnya mal masih memiliki daya tarik bagi penduduk setempat,” kata Steve.

Berdasarkan data yang dimiliki Colliers, hingga 2020 mendatang bahkan akan terdapat 12 pusat perbelanjaan baru dengan luas total sekitar 600 ribu meter persegi. Dari jumlah tersebut, sekitar 38 persen diantaranya sedang dibangun.

Menurut dia, fenomena belanja online yang meningkat, tak akan menjadi ancaman keberadaan mal. Jika disinergikan dengan tepat, menurut dia, keduanya bahkan bisa membawa manfaat yang besar.

Menurut riset Colliers, makanan dan minuman akan terus menjadi penarik utama bagi masyarakat untuk singgah di pusat belanja. Di samping itu, menurut dia, akan lebih banyak merek baru dari negara-negara Asia yang datang dan memperluas bisnis di Indonesia. Hal ini juga akan menjadi daya tarik bagi masyarakat untuk tetap berkunjung ke pusat perbelanjaan.

Sumber : CNN.com

admin Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *