Siapa bilang toko offline tidak laku?

Jakarta – Ada yang menilai lesunya penjualan toko ritel konvensional atau offline lantaran pergeseran pola belanja masyarakat, dari offline beralih ke daring seperti lewat e-commerce. Sejumlah ritel yang bertumbangan tersebut seperti Lotus, Matahari di Pasaraya Blok M dan Manggarai, hingga Dabenhams.

Ketua Umum Asosiasi E-Commerce Indonesia (idEA/ Indonesia E-Commerce Association), Aulia Ersyah Marinto, menampik jika mulai maraknya jual beli online berkontribusi besar pada tumbangnya para pemain ritel offline. Menurutnya, banyak alasan yang membuat pemain ritel akhirnya memilih menutup gerainya.

“Jadinya informasi yang saya dapat dari pelaku offline, mereka tutup karena banyak hal, seperti melakukan reposisi, enggak ada urusan sama online. Ini harus dicermati. Online juga tak ada kalau tidak ada offline. Kalau anda punya barang dijual online, itu juga dari offline. Atau orang buka online suplainya juga dari offline. Di satu titik, ada sinergi di situ, jangan dikotomi,” kata Aulia kepada detikFinance di Jakarta, Senin (30/10/2017).

Di negara yang toko online sudah berkembang sangat pesat, diakuinya, turut berkontribusi pada lesunya penjalan di toko-toko offline. Namun kondisi di Indonesia jauh berbeda, dimana secara keseluruhan transaksi e-commerce baru di bawah 2%.

“Di tengah terjadinya situasi ini (ritel lesu), di belahan dunia dikejutkan ritel offline terpukul karena berbagai macam faktor. Ekonomi global belum membaik, kemudian di negara tertentu offline terpukul karena digitalisasi yang sudah sedemikian masif,” ungkap Aulia.

CEO Blanja.com ini berujar, situasi sulit yang dihadapi pelaku ritel offline yang dimaksudnya yakni seperti pergeseran dari fisik toko itu sendiri, hingga perubahan pola belanja pada konsumennya.

“Ada yang lokasi tokonya sudah enggak worth it mungkin karena macet atau perubahan tata kota. Pembangunan LRT misalnya bikin macet, tadinya lokasinya strategis jadi enggak strategis, akhirnya tutup toko, kemudian dibilang gara-gara online. Padahal itu natural,” jelas Aulia.

“Infrastruktur juga pengaruh. Misalnya ada tol Cipali orang yang dulunya selalu ambil barang di Jakarta, sekarang di sana sudah ada diler, jadi tak ambil barang bisa langsung di Cirebon, kemudian yang di Jakarta jadi sepi dan bilang ini penjualan jadi susah karena online,” imbuhnya.

Sumber : Detik.com

admin Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *